Rabu, 16 Maret 2011

Ibu...Ibu...Ibu

disebuah ranjang rapuh wanita cantik itu menghela nafas, tersengal - sengal, menanti seorang yang sudah ia tunggu sejak lama, untuk mengeluarkan anugerah yang tak ternilai harganya yang berada didalam perut buncit itu. keringat bercucuran deras, tasbih, tahmid, tahlil dan berbagai macam doa ia ucapkan demi menenangkan hatinya yang sudah mulai gundah menanti harapan yang diidam - idamkannya selama ini. ditemani seorang pria gagah suaminya, dia terus berdoa, menanti, dan berharap banyak.hari itu wanita cantik itu dihadapkan dua pilihan, hidup atau mati. seolah tak peduli dengan pilihan itu, wanita itu HANYA berharap yang ada diperut buncitnya itu yang penting sehat dan selamat, tak peduli akan dirinya, hidup atau mati.
orang itupun datang, dengan stetoskop dan baju putih panjang dan masker andalannya.
"Ibu diatur nafasnya yang benar yaa, tarik nafas, keluarkan perlahan - lahan...bapak tolong bantu ibu mengatur nafasnya yaa...suster bantu saya..."
"Baik dok..." saut sang asisten dokter...
harapan itu tinggal sedikit lagi...detik berganti menit, menit hampir berganti dengan jam, dan akhirnya...
"Oeeeeeekkkk....Oeeeeeekkkkk.....Oeeeeeekkkkkk....."
harapan itu pun akhirnya terlahir dengan selamat, sehat, dan tampan. dengan segera senyuman itu meluncur manis dari keempat orang perkasa didalam ruangan sempit nan mengerikan, dokter, suster, wanita cantik, dan pria gagah. Wanita cantik itu tersenyum sumringah,menggendong sang pujaan hati yang terlihat mungil, imut, lucu..Dengan segera pria gagah memberinya sebuah nama terbaik yang sudah ia rencanakan sejak lama, nama yang ia harapkan menjadi penghantar kebaikan bagi tubuh yang baik sesuai dengan harapannya dengan wanita cantik itu.
Terlahir, terawat dan kini sudah besar seperti sekarang. Teringat akanku sebuah kisah perjalanan hidupku sampai saat ini, sudah banyak dosa yang kuperbuat terhadap kedua orang tuaku,terutama ibuku, wanita cantik yang selama sembilan bulan menjagaku dalam kandungan, merawat, menyusuiku, menjaga, menyuapiku..tapi sampai saat ini aku masih bingung ingin membalas semua itu, bahkan aku berpikir itu semua tak akan pernah terghantikan. Perahkah kau berpikir akan semua pengorbanan yang ibu berikan pada kita?? Semua ia berikan asalkan kita sehat, aman, bahagia dunia maupun akhirat, sekalipun ia harus berkorban nyawa..dimalam yang larut, harusnya ia tidur dengan lelapnya, tapi ia rela terjaga demi menjaga kita, mengganti popok kita yang sudah kusam karena kotoran. Tapi apa yang kita perbuat padanya???


Saat kau berumur 1 tahun, dia menyuapi dan memandikanmu. Sebagai balasannya, kau menangis sepanjang malam.

Saat kau berumur 2 tahun, dia mengajarimu bagaimana caranya berjalan.
Sebagai balasannya, kau kabur saat dia memanggilnya.

Saat kau berumur 3 tahun, memasakkan semua makananmu dengan kasih sayang.
Sebagai balasannya, kau buang piring berisi makanan ke lantai.

Saat kau berumur 4 tahun, dia membelikanmu pensil warna. Sebagai balasannya,
kau coret-coret dinding rumah dan meja makan.

Saat kau berumur 5 tahun, dia membelikanmu pakaian-pakaian yang indah dan mahal.
Sebagai balasannya, kau memakainya untuk bermain di
kubangan lumpur dekat rumah.

Saat kau berumur 9 tahun, dia membayar mahal untuk kursus pianomu. Sebagai balasannya,
kau sering bolos dan sama sekali tidak pernah berlatih.

Saat kau berumur 11 tahun, dia mengantarmu dan teman-temanmu pergi ke bioskop. Sebagai
balasannya, kau minta dia duduk dibarisan lain.

Saat kau berumur 14 tahun, dia membayar biaya kempingmu selama sebulan liburan. Sebagai
balasannya, kau tak pernah menelfonnya.

Saat kau berumur  17 tahun, dia sedang menunggu telepon yang penting. Sebagai balasannya,
kau pakai telepon nonstop semalaman.

Saat kau berumur 19 tahun, dia membayar biaya kuliahmu dan
mengantarmu ke kampus pada hari pertama. Sebagai balasannya, kau minta diturunkan
jauh dari pintu gerbang agar kau tidak malu didepan teman-temanmu.

Saat kau berumur 21 tahun, dia menyarankan satu pekerjaan
yang bagus untuk karirmu dimasa depan. Sebagai balasannya, kau
katakan,” Aku tidak ingin seperti ibu.”

Saat kau berumur 23 tahun, dia membelikanmu satu  furnitur untuk
rumah barumu. Sebagai balasannya, kau ceritakan
pada temanmu betapa jeleknya furnitur itu.

Saat kau berumur 25 tahun, dia membantumu membiayai pernikahanmu. Sebagai balasannya,
kau pindah kekota lain yang jaraknya lebih dari 500 km.

Saat kau berumur 30 tahun, dia memberikan beberapa nasehat bagaimana merawat bayimu.
Sebagai balasannya,
kau katakan padanya,” Bu, sekarang jamannya sudah beda!”

Saat kau berumur 40 tahun, dia menelpon untuk memberitahukan
pesta ulang tahun salah satu kerabatnya. Sebagai balasannya, kau menjawab,” Saya sibuk
sekali dan nggak ada waktu.”

Saat kau berumur 50 tahun, dia sakit-sakitan sehingga memerlukan
perawatanmu. Sebagai balasannya, kau baca tentang pengaruh negative orang tua yang
menumpang tinggal dirumah anak-anaknya.

Dan hingga suatu hari, dia meninggal dengan tenang. Dan tiba-tiba
kau teringat banyak hal yang belum kau lakukan untuknya dan betapa banyaknya kesalahan
yang pernah kau perbuat padanya. Perasaan bersalah dating menghantam HATI-mu
bagaikan pali godam, tanpa akhir.






2 komentar:

wimboblog.blogspot.com mengatakan...

ok goods di lanjut saja cuman boleh saran kalau ambil dari narasi lain mhn di cantumkan dari mana narinya ... he he he nanti aq mau belajar ah he he he

Naufal mengatakan...

http://sebuahkisahperjalananhidupku.blogspot.com/

Posting Komentar